BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua manusia pada umumnya memiliki dorongan dan minat yang
besar untuk mencapai atau ingin memiliki sesuatu. Adanya perilaku seseorang dan
munculnya berbagai kebutuhan seseorang disebabkan oleh dorongan dan minat yang
besar. Jika terpenuhi, itulah dasar dari pengalaman emosionalnya. Perjalanan
hidup seseorang satu dengan yang lainnya itu tidak sama. Semua memiliki jalan
sendiri-sendiri. Semua memiliki pola sendiri-sendiri pula. Jika seseorang bisa
memenuhi apa yang mereka inginkan, maka mereka akan memiliki emosi yang stabil,
dengan demikian bisa menikmati hidupnya dengan sebaik-baiknya. Tetapi
sebaliknya, jika seseorang tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan, maka
mereka cenderung memiliki emosi yang tidak stabil.
Seseorang manusia dalam menanggapi sesuatu lebih banyak
diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Tetapi pada
saat tertentu, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi
pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya. Oleh sebab itu, untuk memahami remaja,
memang perlu mengetahui apa yang dia pikirkan dan dia lakukan. Yang lebih
penting lagi adalah mengetahui apa yang mereka rasakan. Gejala-gejala emosional
seperti marah, takut, malu, cinta, benci, dan lainnya perlu dicermati dan
dipahami dengan baik. Selanjutnya marilah kita tinjau secara rinci tentang
perkembangan emosi pada peserta didik.
1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui pengertian
perkembangan emosi pada peserta didik
- Untuk mengetahui ciri-ciri
perkembangan emosi pada peserta didik
- Untuk mengetahui faktor-faktor
perkembangan emosi pada peserta didik
- Untuk mengetahui hubungan
antara emosi dan tingkah laku serta pengaruh emosi terhadap tingkah laku
pada peserta didik
- Untuk mengetahui sikap
individual dalam perkembangan emosi
- Untuk mengetahui upaya
pengembangan emosi remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan
pendidikan
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah pengertian Emosi itu?
- Bagaimana
ciri-ciri perkembangan emosi itu?
- Faktor
apa sajakah yang memengaruhi perkembangan emosi?
- Bagaimana
Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku serta pengaruh Emosi terhadap
Tingkah Laku?
- Bagaimana
Individual dalam Perkembangan Emosi?
- Bagaimana
upaya Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan
Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Emosi
Perilaku atau perbuatan kita sehari-hari selalu disertai oleh
perasaan-perasaan tertentu, misalnya senang atau tidak senang.
Perasaan-perasaan yang selalu menyertai perbuatan kita tersebut disebut warna
efektif. Warna efektif kadang-kadang lemah, tetapi terkadang juga kuat. Jika
warna efektif kuat, perasaan-perasaan akan menjadi lebih dalam, lebih luas, dan
lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi. Perasaan lainnya seperti
gembira, takut, cemas, benci, dan lain sebagainya.
Emosi dan perasaan adalah dua hak yang berbeda. Tetapi
perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan
perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan,
akan tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat warna efektif dapat dikatan
sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Contohnya marah
yang akan ditunjukkan dalam bentuk diam. Jadi sukar sekali kita mendefinisikan
emosi. Jadi, emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari
dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah
laku yang tampak.
Emosi adalah warna efektif yang kuat dan ditandai oleh
perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi
perubahan-perubahan pada fisik, anatar lain berupa: peredaran darah akan
bertambah cepat bila marah, pupil mata membesar bila marah, bulu roma berdiri
bila takut, dan lain sebagainya.
2.2 Karakteristik Perkembangan Emosi
Masa remaja
merupakan masa yang penuh badai dan tekanan. Ketegangan emosi meninggi akibat
perubahan fisik dan juga kelenjar. Rata-rata emosi para remaja menjadi tinggi
karena mereka sedang berada dibawah tekanan social dan juga mereka sedang
menghadapi kondisi baru, sedangkan selama anak-anak mereka kurang mempersiapkan
diri. Tetapi tidak semua remaja mengalami tekanan dan badai dalam hidupnya.
Pola emosi
masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis emosi yang
secara normal dialami adalah: cinta/kasih saying, gembira, amarah, takut dan
cemas, cemburu sedih, dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam dan
derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian
yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Berikut ini akan
dibahas beberapa kondisi emosional.
- Cinta/Kasih
sayang
Faktor
penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain
dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk
menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun
para remaja sudah banyak yang bergerak ke dalam dunia bebas, tetapi dalam
dirinya masih terdapat sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang
dari orang tua di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada
tahun-tahun sebelumnya.
Kebutuhan
untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupan
kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja
yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan
yang besar kemungkinannya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai
yang tidak disadari.
- Gembira
Individu
pada umumnya dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan
yang menyenangkan tersebut kita agaknya mempunyai cerita yang panjang dan
lengkap tentang apa yang terjadi dalam perkembangan emosional remaja.
Rasa gembira
akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja
akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila
ia jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan (diterima) oleh yang
dicintai.
- Kemarahan
dan Permusuhan
Rasa marah
merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang
menonjol dalam perkembangan kepribadian. Rasa marah juga penting dalam
kehidupan, karena rasa marahnya seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan
pemilikan minat-minatnya sendiri.
Kondisi-kondisi
yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa
perubahan sehubungan dengan pertambahan umurnya dan kondisi-kondisi tertentu
yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan kendali emosional.
- Ketakutan
dan Kecemasan
Menjelang
balita mencapai masa anak-anak, kemudian masa remaja, dia telah mengalami serangkaian
perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa
ketakutannya. Beberapa rasa takut sudah teratasi, tetapi masih banyak yang
tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya
kecemasan-kecemasan – kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan
perkembangan remaja itu sendiri.
Semua remaja
sedikit banyak takut terhadap waktu. Beberapa di antara mereeka merasa takut
hanya pada kejadian-kejadian bila mereka dalam bahaya. Beberapa orang mengalami
rasa takut secara berulang-ulang dengan kejadiian dalam kehidupan sehari-hari,
atau karena mimpi-mimpi, atau karena pikiran-pikiran mereka sendiri. Beberapa
orang dapat mengalami rasa takut sampai berhari-hari bahkan sampai
berminggu-minggu.
Remaja
seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi
ketakutan-ketakutan yang timbul dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak ada
seorang pun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat tanpa rasa takut
adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seseorang begitu
takut sehingga ia tidak berani mencapai apa ada sekarang atau masa depan yang
tidak menentu.
2.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan
Emosi
Dalam
sejumlah penelitian, perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan
dan faktor belajar. Kedua faktor itu terjalin erat satu sama lain dan
akan mempengaruhi perkembangan intelektual. Hal itu akan menghasilkan suatu
kemampuan berpikir kritis, mengingat, dan menghafal. Selain itu, individu akan
menjadi reaktif terhadap rangsangan.
Dalam faktor
belajar, terdapat metode-metode yang menunjang perkembangan emosi. Diantaranya
:
- a.
Belajar dengan coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk
perilaku yang dapat memberikan kepuasan sedikit atau bahkan tidak memberikan
kepuasan.
- b.
Belajar dengan cara meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang dapat membangkitkan emosi
orang lain.
- c.
Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak akan menirukan reaksi emosional orang yang dikagumi dan mempunyai
ikatan emosional yang kuat.
- d.
Belajar melalui pengondisian
Objek atau situasi yang mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian
berhasil melalui metode asosiasi.
- e.
Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi
terangsang. Dapat melalui pelatihan maupun yang lainnya.
Banyak
kondisi sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dalam
hubungannya dengan orang lain yang membawa perubahan untuk menyatakan emosi.
Orang tua dan guru berhak menyadari perubahan ekspresi ini karena tidak berarti
emosi tidak lagi berperan dalam kehidupan mereka. Mereka juga tetap membutuhkan
rangsangan dan respons untuk mengembangkan pengalaman dan kemampuannya.
Bertambahnya umur juga akan berpengaruh signifikan terhadap perubahan irama
emosional. Terutama faktor pengetahuan dan pengalaman.
2.4 Hubungan Antara Emosi dan
Tingkah Laku serta Pengaruh Emosi terhadap Tingkah Laku
Dalam
perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang
lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke
penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil
penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan sering
terlihat usaha seseorang untuk menyembunyikan atau merahasiakannya. Dengan
refleksi diri, hubungan dengan situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya
diterima, karena lingkungan tidak senantiasa sejalan dengan konsep dirinya yang
tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku sehari-hari.
Pikiran
remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap
kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat
orag lain dibandingkan dengan teori yang diikuti dan diharapkan. Sikap kritis
ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa
sebelumnya, sehingga tatacara, adat istiadat yang berlaku di lingkungan
keluarga sering terasa terjadi/ada pertentangan dengan sikap kritis yang tampak
pada perilakunya.
Kemampuan
abstraksi menimbulkan kemampuan mempermasalahkan kenyataan dan
peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam
pikirannya. Situasi ini ( yang di akibatkan kemampuan abstraksi) akhirnya dapat
menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa.
Disamping
itu pengaruh egosentris masih sering terlihat pada pikiran remaja. Misalnya,
cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri tanpa
memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungan kesulitan praktis yang
mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan. Contoh yang
lainnya, kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat
orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang
lain dari pada tujuan perhatian diri sendiri. Pandangan dan penilaian diri
sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Pencerminan
sifat egois sering dapat menyebabkan “kekakuan”para remaja dalam cara berfikir
maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak
bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan mengganggu dirinya dalam
bergaul, karena dikiranya orang lain sepikiran. Akibat dari hal ini akan
terlihat pada tingkah laku yang canggung.
Proses
penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya dapat menimbulkan reaksi lain
dimana remaja itu justru melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri. Mereka
merasa dirinya “ampuh” atau “hebat” sehingga berani menantang malapetaka dan
menceburkan diri dalam aktivitas yang acap kali dipikirkan atau direncanakan
dan biasanya tergolong aktivitas yang membahayakan.
Melalui
banyak pengalaman dan penghayata kenyataan dalam menghadapi pendapat orang
lain, maka sifat ego semakin berkurang. Pada akhir masa remaja pengaruh
egosentrisitas sudah sedemikian kecilnya, sehingga remaja sudah dapat
berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat dan pandangan orang
lain.
2.5 Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi
Bersosialisasi
dilakukan oleh setiap orang, baik secara individu maupun berkelompok. Dilihat
dari berbagai aspek terdapat perbedaan individual manusia yang hal itu tampak
juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai
dengan teori komprehensif tentang perkembangan sosial yang dikembangkan oleh
Erickson, maka di dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya setiap manusia
menempuh langkah yang berlainan satu dengan yang lain. Dalam teori Erickson
dinyatakan bahwa manusia(anak) hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan
kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia namun
sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka
berkembang kelompok-kelompok sosial yang beraneka ragam.
Remaja yang
telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari
pola-pola sosial yang sesuai dengan kepribadiannya.
2.6 Upaya Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam
Penyelenggaraan Pendidikan
Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga
tidak menimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredam emosi adalah :
- berfikir
positif
- mencoba
belajar memahami karakteristik orang lain
- mencoba
menghargai pendapat dan kelebihan oranglain
- introspeksi
dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri
sendiri, mereka dapat merasakannya
- bersabar
dan menjadi pemaaf
- mengalihkan
perhatian, yaitu mencoba mengalihkan perhatian pada objek lain dari objek
yang pada mulanya memicu pemunculan emosi negatif.
Mengendalikan
emosi itu penting. Hal ni didasarkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai
kemampuan untuk mengkomunikasikan diri pada orang lain. Orang-orang yang
dijumpai dirumah atau di kampus akan lebih cepat menanggapi emosi daripada
kata-kata.
Cara lainnya
adalah dengan mengekspresikan emosi.Ekspresi itu dapat mengembangkan sifat
kreativitas seseorang. Ekspresi juga dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian
yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi
perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan.
Intervensi
pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan
emosi, salah satunya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh
W.T Grant Consertium tentang “Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan” yaitu
sebagai berikut :
- 1.
Pengembangan Keterampilan Emosional:
- mengidentifikasi
dan memberi nama atau label perasaan
- mengungkapkan
perasaan
- menilai
intensitas perasaan
- mengelola
perasaan
- menunda
pemuasan
- mengendalikan
dorongan hati
- mengurangi
stress
- memahami
perbedaan anatara perasaan dan tindakan
- 2.
Pengembangan Keterampilan Kognitif
- belajar
melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah
atau memperkuat perilaku diri sendiri
- belajar
membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat social
- belajar
menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan pengambilan
keputusan
- belajar
memahami sudut pandang oranglain (empati)
- belajar
memahami sopan santun
- belajar
bersikap positif terhadap kehidupan
- belajar
mengembangkan kesadaran diri
- 3.
Pengembangan Keterampilan Perilaku
- mempelajari
keterampilan komunikasi non verbal,misal melalui pandangan mata,ekspresi
wajah, gerak-gerik, posisi tubuh dan lain-lain
- mempelajari
keterampilan komunikasi verbal, misal mengajukan permintaan dengan jelas,
mendiskripsikan sesuatu kepada oranglain dengan jelas, menanggapi kritik
secara efektif
Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat
dirangsang, disikapi oleh orang tua maupun guru dengan cara :
- orangtua
dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak
(significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi
negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
- adanya
program latihan beremosi baik disekolah maupun didalam keluarga, misalnya
dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak sejalan sebagaimana
mestinya.
- Mempelajari
dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung
menimbulkan emosi negatif dan upaya-upaya menanggapinya secara lebih
baik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Emosi
merupakan reaksi psikologis yang nampak dari reaksi fisik seperti detak jantung
lebih cepat, muka merah atau pucat, otot memegang dan sebagainya. Tingkah
laku emosi misalnya riang atau bahagia, marah, takut, sedih dan
sebagainya. Jadi, emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran-pikiran
yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan
untuk bertindak.
Emosi itu
ada dua jenis, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif merupakan
reaksi psikologis sebagai tanda adanya kepuasan terhadap berbagai keputusan
yang dirasakan remaja, dan emosi negatif diakibatkan ketidakpuasan terhadap
berbagai kebutuhan itu.
Emosi yang
paling sering dirasakan remaja adalah emosi marah, takut, cemas, kecewa dan
cinta. Gangguan emosi yang dialami remaja dapat menjadi sumber tingkah laku
nakal.
Oleh karena
itu hal-hal yang menyebabkan emosi remaja terganggu perlu dihindari. Cara
yang sangat penting untuk menghindari gangguan emosi pada remaja yaitu memenuhi
kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis. Yaitu kebutuhan makan, pakaian dan
bergerak, kebutuhan mendapatkan status, kebutuhan untuk diakrabi, kebutuhan
untuk berprestasi, kebutuhan untuk mandiri dan kebutuhan memiliki filsafat hidup.
Saran
Usaha untuk mengembangkan emosi remaja :
- Adanya model dari orang tua dan
guru serta orang dewasa lainnya dalam melahirkan emosi-emosi positif
- Adanya latihan beremosi secara
terprogram di keluarga dan di sekolah
- Mempelajari secara mendalam
kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan emosi negatif remaja muncul dan
menghindari kondisi-kondisi itu
- Membantu remaja mengatasi
berbagai masalah pribadinya dengan mendorongnya membicarakan masalah
pribadi itu kepada orang-orang yang dipercayainya
- Melatih dan menyibukkan remaja
dengan berbagai kegiatan fisik sehingga menguras energi yang banyak agar
gejolak emosi tersalurkan
- Menciptakan berbagai kesempatan
yang memungkinkan remaja berprestasi dan mendapatkan harga diri
DAFTAR
PUSTAKA
Fatimah, Enung.2010.Psikologi perkembangan
(perkembangan peserta didik).Bandung: CV Pustaka Setia
Sjarkawi.2005.Pembentukan Kepribadian Anak.Jambi:
Bumi Aksara
Sunarto.1995.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta:Rineka
Cipta
google.com